Senin, 23 Januari 2012

makalah hadis tentang niat


TUGAS HADIS AHKAM II

HADIS TENTANG NIAT
 









OLEH:
DAMIN HAMDANI
NPM:08 02 01 01 025

JURUSAN SYARI’AH/AS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2011

BAB I
PEMBAHASAN
A.  Materi Hadis, Mufradat Dan Asbab Al-Nuzul
1.    Materi Hadis  
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]


Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan]) tergantung niatnyA).  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Hadis Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)[1]

2.    Kosa kata / مفردات :
اْلأَعْمَالُ      : Perbuatan
لنِّيَّات       : Niat/maksud
إِنَّمَا         : Sesungguhnya. (kata penguat/ta’qid dan peringkas/taqshir
امْرِئٍ        : Seseorang, manusia
يُصِيْبُ       : Mendapatkan/mencapai
امرأة                 : Seorang wanita


3.    Asbab al- wurud hadis tentang niat
Rasulullah SAW mengeluarkan hadis diatas (asbab al-wurud)-nya adalah untuk menjawb pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya rasulullah SAW. Dari mekkah ke madinah, yang diikuti oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut serta berhijrah. Akan tetapi, niatnya bukan untuk kepentingan perjuangan islam melainkan hendak  menikah dengan seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya telah bertekad akan turut hijrah, sedangkan laki-laki tersebut pada mulanya memilih tinggal di Mekkah. Ummu Qais hanya bersedia dikawini ditempat tujuan hijrahnya Rasulullah SAW. yakni Madinah, sehingga laki-laki itupun ikut hijrah ke Madinah.
Ketika peristiwa itu ditanyakan kepada Rasulullah SAW,apakah hijrah dengan motif itu diterima (maqbul) atau tidak, Rasullah SAW menjawab secara umum seperti disebutkan pada hadis diatas[2].
Dalam hadis ini Rasulullah SAW menegaskan secara khusus, bahwa tiap-tiap perbuatan bergantung kepada dorongan hati (kesengajaan) pelakunya. Kemudian beliau mengambil contoh berupa perbuatan (amal) hijrah.
Hijrah para sahabat dan Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah adalah atas perintah Allah. Melakukan perintah Allah adalah ibadah. Tetapi kalau di dalam melakukan perintah Allah itu maksudnya atau kesengajaannya untuk mendapatkan keuntungan dunia atau materi, seperti istri, harta, pangkat, kemasyuran, pujian dan lain-lain, maka perbuatan tersebut tidak akan mendapat pahala dari Allah. Bahkan ia akan mendapatkan dosa, sebab Allah menyatakan bahwa tiap-tiap orang dalam melekukan perintahnya harus bersikap ikhlas, bersih dari pamrih keduniaan.[3]

B.  Penjelasan Hadis
Islam adalah agama yang tidak pernah mengajarkan adanya pekerjaan sia-sia, sehingga tidak satu pekerjaan pun yang boleh dilakukan setengah hati. Setiap pekerjaan harus diselesaikan secara serius dengan metodologi dan orientasi yang jelas. Dalam islam , semua kerja (amal) memiliki nilai dan akan dicatat sebagai ibadah dihadapan Allah.
Karena itu tidak ada pekerjaan yang dilakukan tanpa niat dan perencanaan yang jelas. Niat dalam khazanah ilmu fiqh adalah disebut pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolak ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Suatu amal yang tidak didasari niat yang benar dianggap tidak bernilai. Sebab terdapat dua kemungkinan bagi seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan. Pertama, ada orang yang mengerjakan suatu pekerjaan tanpa tujuan, tanpa  aturan sebagaimana layaknya robot atau mesin. Kedua, ada yang melekukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas. Niatlah yang akan mengantarkan seseorang agar memasuki kelompok kedua[4].

1.    Arti dan makna niat dalam setiap pekerjaan (amal)
Niat atau niyyat, seperti yang dikutip dalam bukunya teungku hasbi as shidieqy (mutiara hadis 1),menurt bahasa adalah tujuan hati dan kehendak hati. Menurut syara ialah bergeraknya hati kearah sesuatu pekerjaan untuk mencapai keridhaan allah dan untuk menyatakan tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.
Al baidhawy bwrkata: niat itu ialah bergeraknya hati untuk engerjakan ssuaatu yang dipandang baik, untuk sesuattu maksud, baik untuk menarik sesuatu manfaat ataupun untuk menolak sesuatu mudharat, dalam waktu yang cepat atau dalam waktu yan akan datang. Syara menentukan niat dengan iradat (kehendak hati) yang mengarah kepada pekerjaan untuk mencari keridhaan Allah dan untuk menuruti perintahnya.
Kebanyakan ulama mutaakhirin Syafi’iyah mengartikan niat syar’iyah (niat yang dipandang syara) dengan “menghendaki sesuatu, bersamaan dengan mengerjakannya”[5].
Pengertian niat dalam ensiklopedi hukum islam secara semantis berarti maksud, keinginan kehendak, cita-cita, tekad dan menyengaja. Secara terminologis ulama fiqh mendifinisikan dengan “tekad hati untuk melakukan sesuatu perbuatan ibadah dalam rangka mendekatkan diri semata-mata kepada Allah[6].

2.    Fungsi dan peranan niat dalam setiap amal ibadah
Niat merupakan unsur yang sangat menentukan dalam keabsahan suatu amal ibadah dan menentukan keabsahan suatu ibadah dan beberapa jenis muamalah. Menurut istilahnya ialah kehendak hati untuk melakukan perbuatan tertentu untuk mencari keridhaan Allah dan meleksanakan hukumnya. Yang dikatakan niat menurut para fuqaha ialah sesuatu kehendak untuk melaksanakan sesuatu perbuatan berbarengan dengan pelaksanaannya.
Yusuf Qardhawy menjelaskan dalam buku “Niat dan Ikhlas”, bahwa niat itu merupakan amal hati secara murni, bukan amal lidah, maka dari itu tidak pernan dikenal dari Rasulullah, dari sahabat dan orang-orang salaf yang mengikuti mereka tentang adanya niat dalam ibadah yang dilafadzkan[7].
Disepakati bahwa tempat niat adalah dalam hati dan dilakukan pada permulaan melakukan perbuatan untuk tujuan amal kebajikan. Niat berperan penting dalam ajaran islam, khususnya perbuatan yang berdasarkan perintah syara, atau menurut sebagian ulama,dalam perbuatan yang mengandung harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Niat akan menentukan nilai, kualitas serta hasilnya, yakni pahala yang akan diperolehnya.
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapat keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau orang hijrah karena ingin mendapat ridha Allah maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan dunia pun akan diraihnya[8].
Agama islam mensyariatkan niat ada dua hikmah yang terkandung didalamnya:
a)    Untuk membedakan perbuatan-perbuatan yang semata-mata berdasarkan kebiasaan dengan perbuatan-perbuatan ibadah.
b)   Untuk membedakan martabat, nilai ibadah dari perbuatan yang dilakukan oleh seseorang[9].


3.    Pendapat para ulama mengenai hadis tentang niat
Menurut pendapat kebanyakan ulama pensyarah hadis, hadis ini  member pengertian \bahwasanya niat itu, adalah syarat syah segala amal yang dimasud (maqashid). Dan mereka berselisih paham tentang mensyaratkan niat dalam urusan 9wasa-il. (yang menjadi jalan bagi muqashid atau orang yang bermaksud).
Al-Ghazaly menetapkan, bahwasanya niat pada sesuatu amalan, adalah syarat syahnya amal, niat yang diartikan menurut makna bahasa (qashad dan iradat).
Menurut Ash-shidieqy hadis tersebut memberi suatu pengertian yang tegas yaitu, segala amal bedasarkan motivasi dari seesorang, kalau motivasi karena Allah, maka dipahalai. Kalau penggeraknya bukan karena Allah tidak dipahalai dan mungkin diganjari dengan dosa.[10]
Lebih lanjut ash-Shidieqy menjelaskan bahwa niat adalah ruh dan amal neracanya. Sesungguhnya tidaklah terjadi sesuatu amal ikhtisyari yang diqashadkan (yang disengajakan) melainkan dengan adanya niat. Maka yang diperoleh oleh seorang amil dari amalannya adalah apa yang mendorongnya untuk beramal, bukan lahiriah amalan.
Lafal niat dalam bahasa Arab digunakan untuk
Pertama, mebedakan antara suatu amal dengan amal yang lain, antara sesuatu ibadah dengan ibadah yang lain,
Kedua, membedakan antara niat seseorang dengan niat seseorang yang lain.
Al-imam Ibnu Katsir brkata, bahwa hadis nabi saw
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“sesungguhnya segala amal itu dengan niat”
 Yang memberi pengertian bahwa amal yang dipandang disisi Allah, hanyalah amal yang disertai niat, adalah karena tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari Allah, baik dibumi maupun dilangit. Dan bukanlah kenyataan (rupa) amal yang berharga di sisi-Nya. Allah menghargai amal seseorang menurut niat yang menggerakannya[11].

4.    Intisari hokum dari hadis tentang niat
Adapun hokum-hukum yang dapat diambil dari materi hadis tentang niat  antara lain:
a)    Para ulama mengambil dalil dengan hadis ini untuk melarang seseorang mengerjakan sesuatu amal sebelum diketahui hokumnya yang pasti. Karena hadis ini memberi pengertian bahwasanya sesuatu amal tidaklah dipandang ada (sah) kalau kosong dari niat dan tidaklah dihukum sahnya niat kecuali sesudah mengetahui hukumnya.
b)   Para ulama mengambil dalil pula dengan hadis ini untuk menetapkan bahwa orang yang ceroboh tidak ada taklif 9beban hukum) atasnya, karena sesuatu qasad menghendaki supaya kita mengetahui yang kita maksudkan, sedang orang ceroboh tidak berniat.
c)    Para ulama mengambil dalil dengan mafhum hadis ini bahwa sesuatu yang bukan amal tidaklah disyaratkan niat, seperti jamak taqdim (jamak shalat seperti menjamak shalat zuhur dengan ashar diwaktu zhuhur)[12].








PENUTUP
A.    Kesimpulan
. Niat dalam khazanah ilmu fiqh adalah disebut pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolak ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Dalam islam , semua kerja (amal) memiliki nilai dan akan dicatat sebagai ibadah dihadapan Allah.
niat itu ialah bergeraknya hati untuk engerjakan ssuaatu yang dipandang baik, untuk sesuattu maksud, baik untuk menarik sesuatu manfaat ataupun untuk menolak sesuatu mudharat, dalam waktu yang cepat atau dalam waktu yan akan datang. Syara menentukan niat dengan iradat (kehendak hati) yang mengarah kepada pekerjaan untuk mencari keridhaan Allah dan untuk menuruti perintahnya.
Disepakati bahwa tempat niat adalah dalam hati dan dilakukan pada permulaan melakukan perbuatan untuk tujuan amal kebajikan. Niat berperan penting dalam ajaran islam, khususnya perbuatan yang berdasarkan perintah syara, atau menurut sebagian ulama,dalam perbuatan yang mengandung harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Niat akan menentukan nilai, kualitas serta hasilnya, yakni pahala yang akan diperolehnya.












DAFTAR PUSTAKA
Al-Fauzan,Shalih bin Fauzan bin Abdullah,Kitab Tauhid I,Jakarta: Darul Haq,1998
Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi,Mutiara Hadis 1,Semarang: Pustaka RIzky Putra,2002
Kuraedah,St,Hadis Tarbawi,Kendari :Istana Profesional,2008
Noer, Jefry,Shalat Yang Benar,Jakarta:Prenada Media,2006
Qosim, Amjad,Hafal al-Quran Dalam Sebulan,Solo:Qiblat Press,2008
Shabir, Muslilich, Terjemahan Riadu Shalihin,Semarang:PT. Karya Toha Putra,2004
Syafe’I, Rachnat,Al-Hadis,Bandung:Pustaka Setia,2000
Thalib,M,Butir-Butir Pendidikan Dalam Hadis,Surabaya:al-Ikhlas



[1] Muslilich Shabir, Terjemahan Riadu Shalihin,(Semarang:PT. Karya Toha Putra,2004), hlm. 1
[2] Rachnat Syafe’I,Al-Hadis,(Bandung:Pustaka Setia,2000),hlm.55-56
[3] M. Thalib,Butir-Butir Pendidikan Dalam Hadis,(Surabaya:al-Ikhlas),hlm.9
[4] Jefry Noer,Shalat Yang Benar,(Jakarta:Prenada Media,2006),hlm. 3
[5] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,Mutiara Hadis 1,(Semarang: Pustaka RIzky Putra,2002),hlm.4
[6] St. Kuraedah,Hadis Tarbawi,(Kendari :Istana Profesional,2008)hlm.60
[7] Ibid,.
[8] Syafe’I,Al-Hadis…,hlm.56-57
[9] Kuraedah,…hlm.61
[10] Ash-Shidieqy,Mutiara…,hlm.6
[11] Ibid,.hlm.7
[12] Ash-Shidieqy,Mutiara...,hlm.8

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar