Senin, 23 Januari 2012

makalah sejarah peradaban islam (khalifah Utsman bin Affan)


Tugas Sejarah  Peradaban Islam
PERIODE KHULAFAUR RASYIDIN
(Kalifah Utsman bin Affan)






OLEH


Oleh:
Damin Hamdani
NPM: 08 02 01 01 025


JURUSAN SYARI’AH / AS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2010

Riwayat Khalifah Utsman ibn Affan
A. Utsman Ibn Affan Sebelum Menjadi Khalifah
Usman Bin Affan dikenal sebagai Abu Abdillah, dilahirkan di Mekkah, Dzurunain gelar kehormatannya karna mengawini dua putri Nabi berturut-turut. Ia termasuk keluarga besar Umayyah dari suku Quraisy, dan silsilah pertaliannya dengan Nabi adalah generasi kelima.
Setelah melalui pendidikan dasarnya, Utsman menjalankan usaha nenek moyangnya yang menjadi pedagang Arab terkemuka. Ia sahabat dekat Abu Bakar, khalifah Islam pertama. Adalah Abu Bakar yang membawa berita pertama kali tentang Islam kepadanya. Bersama dengan Thalhah bin Ubaidillah, ia masuk Islam kepadanya. Bersama dengan Thalhah bin Ubaidillah, ia masuk Islam langsung melalui Nabi. Ia sempat disiksa dengan kejam oleh pamannya sendiri, Hakim, karena masuk agama baru itu, namun Utsman tetap pada pendiriannya.
Atas perintah Nabi, Utsman hijrah ke Abessinia bersama kaum Muslimin lainnya. Ia berada di bawah Abu Bakar dan membantu dana keuangan kepada Islam di masa-masa awalnya. Ia mengabdikan diri dengan sepenuhnya walaupun harus mengorbankan perdagangannya. Ia berperan aktif dalam dewan inti agama Islam. Meninggalkan harta bendanya kemudian hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Pada waktu itu, di Madinah hanya ada sebuah sumur sumber air minum bernama Bir Rumah milik seorang non Muslim yang memungut pembayaran yang tinggi dari kaum Muslimin yang memerlukannya. Karena Nabi menginginkan kaum Muslimin membeli sumur tersebut, seketika itu Utsman tampil menyatakan kesediaannya. Ia membelinya dengan harga 30.000 dirham, lalu menjadikan sumur itu milik umum. Utsman juga membeli tanah yang berbatasan dengan masjid Nabi di Madinah, karena bangunan ibadah tidak lagi mampu menampung orang yang sholat. Dari uangnya sendiri pula Utsman membiayai perluasan masjid itu.
Semasa hidup Nabi, kecuali dalam perang Badar, Utsman senantiasa berperan serta dalam setiap peperangan mempertahankan agama Islam yang baru berkembang. Pada perang Badar, Nabi meminta Utsman menjaga isterinya, Ruqayyah, yang sedang dalam sekaratul maut.
Selama masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar, Utsman menjadi pejabat yang dipercayai sebagai anggota terkemuka dewan inti, dan pendapatnya tentang masalah kenegaraan yang penting-penting selalu didengarkan. Ia satu di antara dua orang yang diajak berunding oleh Abu Bakar menjelang wafatnya, untuk membicarakan soal pengangkatan Umar sebagai penggantinya.
B. Proses Pengangkatan Sebagai Khalifah
Sebelum khalifah umar bin khatab  wafat karena tikaman peroz (Abu Lu’lu’ah) beliau membentuk tim yang terdiri atas enam orang sahabat terkemuka untuk menentukan penggantinya sebagai khalifah. Enam sahabat yang menjadi anggota formatur adalah Utsman ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, Talhah, Zuber,Abd Rahman Ibn Auf, dan Saad Ibn Abu Waqash. Untuk menghindari deadlock dalam pemilihan, umar mengangkat anaknya Abdullah ibn Umar, sebagai anggota formatur dengan disertai hak pilih tanpa hak untuk dipilih. Thalhah tidak ada di madinah dan baru kembali kemadinah setelah pemilihan khalifah selesai dilakukan.
Dalam penjajakan pendapat yang dilakukan oleh Abdurahman bin Auf terhadap angota formatur diperoleh dua calon khalifah yaitu Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Ali ibn Abi Thalib memilih Utsman bin Affan menjadi khalifah. Sebaliknya, Utsman ibn Affan memilih Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Sa’ad ibn Abi Waqash memilih Utsman. Sementara suara Abdurrahman bin Auf dan Zubeir tidak diketahui hak pilihnya direalisasikan. Dewan musyawarah akhirnya berhasil mengangkat Utsman ibn Affan sebagai khalifah ketiga sebagai pengganti Umar ibn Khatab, setelah beliau mangkat.
C. Masa Kekhalifahan Utsman ibn Affan
1. Perluasan Wilayah dan Kodifikasi Al-Quran
Pada zaman khalifah Utsman ibn Affan, perluasan wilayah dilanjutkan kewilayah Armenia, Tunisia, Cyprus,Rhodes, sebagian Persia, Transoxania, dan Tabaristan. Utsman bin Affan adalah khalifah pertama yang memperluas masjid nabi SAW. Di Madinah dan masjidil Haram di makkah.dan dia khalifah pertama yang menentuka adzan awal shalat jumat.
Pekerjaan berat yang dilakukan utsman ibn Affan adalah kodifikasi Al-Quran lanjutan kerja yang telah diawali oleh Abu Bakar atas  inisiatif Umar r.a. Latar belakang pembukuan Al-quran pada zaman Utsman yakni masalah perbedaan qiraat dimasing-masing daerah kekuasaan islam yang berbeda sehingga menimbulkan percekcokan diantara umat islam.
Pada saat penyalinan Al-Quran yang kedua kalinya, panitia penysunan mushaf yang dibentuk oleh Utsman melakukan pengecekan ulang dengan meneliti kembali mushaf yang sudah disimpan di rumah Hafshah dan memban dingkannya dengan mushaf lain. Ketika terdapat empat mushaf Al-Quran yang merupakan mushaf pribadi. Pertama, mushaf  yang ditulis Ali ibn Abi Thalib, mushaf Ali terdiri dari 111 surat. Surat pertama adalah surat Al-baqarah dan surat terakhir adalah al-Mwazatain. Kedua,mushaf yang. disusun oleh Ubay ibn Kaab. Yang terdiri atas i05 surat, surat yang pertama adalah Al-Fatihah dan yang terahir adalah An-Nas. Ketiga, mushaf ibn Mas’ud yg terdiri 108 surat. Surat yang pertama adalah Al-Baqarah dan yang terahir Al-Iklas. Dan yang keempat, mushaf milik Ibn Abbas, yang terdiri atas 114 surat. Surat pertama Al-Alaq dan yang terahir An-Nas.
Selain itu, tugas panitia adalah menyalin mushaf Al-Quran yang disimpan Hafsah dan menyeragamkan qiraat dan bacaannya, yaitu dialek Quraisy. Setelah membuat salinannya Said bin Tsabit mengembalikan naskah yang disalinnya kepada Hafsah. Khalifah Utsman memerintahkan Said bin Tsabit agar membuat sejumlah salinan mushaf dan dikirim ke Mekah, Madinah, Basrah, Kufah,dan Syiria dan salah satunya disimpan oleh Utsman bin Affan yang kemudian disebut mushaf al imam. Sedangkan mushaf lain, selain mushaf yang telah disusun oleh panitia yang dipimpin oleh Said bin Tsabit, diperintahkan untuk dibakar.
2. otonomi Daerah
Pada zaman khalifah Abu Bakar dan Umar, wilayah dibedakan menjadi dua: wilayah yang pemimpinnya memiliki otonomi penuh dan pemimpinnya disebut amir,dan wilayah yang tidak memiliki otonomi penuh yang pemimpinnya disebut wali. Pada zaman Utsman dilakukan perubahan status wilayah sehingga semua wilayah memiliki otonomi penuh. Oleh sebab itu seluruh pemimpin wilayah jabatan setingkat gubernur bergelar amir. Abd al Wahab mengimformasikan pembagian wilayah dan amir-nya pada zaman Utsman sebagai berikut;
No.
Wilayah
Amir
1
Makkah
Nafi Ibn Abd al-Harits al-Khuza’i
2
Tha’if
Sufyan ibn Abdullah  al-Tsaqafi
3
Shan’a
Ya’la ibn Munbih
4
Jand
Abdullah ibn abi rabi’ah
5
Bahrain
Utsman ibn Abi ai’Ash al-tsaqafi
6
Kuffah
Al-Mugirah ibn Syubah al-Tsaqafi
7
Bashrah
Abu Musa Abduullah ibn Qaish al-ay’ari
8
Damaskus
Mu’awiyah ibn Abi Sufyan
9
Himsh’
Amir ibn Sa’d
10
Mesir
Amr ibn al-Ash

D. Masa Krisis Khalifah Utsman Ibn Affan dan Masa Kehancurannya
H.A.R. Gib dan J.H Krames membagi membagi fase pemerintahan Utsman bin Affan menjadi dua periode:  selama enam tahun pertma administrasi pemerintahan berjalan secara bersihdari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara (bebas KKN). Sedangkan periode kedua adalah enam tahun terahir yang merupakan periode pemerintahan yang tidak bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara.
Kebijakan Khaliifah Utsman menurut sebagian peneliti sejarah tergolong “nepotisme” adalh:
1)Perluasan wilayah kekuasaan. Muawiyah pada zaman khalifah Umar diangkat menjadi wali damaskus. Wilayah kekuasaannnya diperluas oleh Utsman sehingga mencakup lima wilayah: dammaskus, himsh, Palestina, Yordania dan Libanon.
2) Promosi jabatan kepada keluarga. Marwan ibn Hakam (saudara sepupu utsman) diangkat menjadi sekertaris jenderal Negara yang menyebabkan Negara diikendalikan oleh satu keluarga.
3) pemecatan amir atau wali yang berprestasi diganti dengan anak dan kerabat dekatnya.
Tindakan Khalifah Utsman ibn Affan yang menyebabkan terkumpulnya seluruh kekuasaan ditangan keluarganya menimbulkan reaksi dari masyarakat, terlebih lagi dari mereka yang dipecat dari jabatannya tanpa alas an yang jelas. Disamping itu, tindakan bawahan khalifah Utsman dinilai masyarakat telah banyak menyimpang dari ajaran Islam. Walid ibn Uqbah pernah shalat subuh empat rakaat dalam keadaan mabuk. Utsman tidak dapat mengatasi ambisi keluarga sehingga pelanggaran tidak dapat diatasi. Tanah fadak yang pernah disengketakan Fatimah dan Abu Bakar dimasukan menjadi milik pribadi oleh marwan ibn al-Hakam.
Reaksi masyarakat terhadap khalifah Utsman berupa protes atas prilaku pejabat pemerintah di daerah, dan ahirnya protes terbesar datang dari mesir yang menurut pemecatan Abdullah ibn Abi Syarh sebagai wali mesir.setelah dinasehati Talhah dan  aisyah dan desakan Ali ibn a bi Thalib, Utsman bersedia memecat Abdullah ibn Abi Syarh sebagai wali mesir dan mengangkat Muhamad Ibn Abu Bakkar sebagai gantinya.
Penduduk mesir yang melakukan protes yang berjumlah 700 orang serta disertai Muhammad ibn Abu Bakkar kembali ke mesir setelah protesnya mendapat responyang baik.. akan tetapi, ditengah perjalanan mereka mendapati seseorang budak yang mencurigakan dan ternyata membawa surat dengan stempel khalifah. Surat tersebut ditujukan kepada Abdulah ibn Syarh yang berisi perintah untuk memenggal kepala Muhammad ketika sampai di Mesir.
Muhamad ibn Au Bakkar  beserta rombongan kembali ke Madinah untuk melakukan konfirmasi kepada Khalifah tentang surat yang dibawa oleh budak. Berdasarkan penelitian terhadap tulisan tangan surat yang dibawa budak, diduga kuat bahwa surat tersebut berasal dari Marwan. Muhamad ibn Abu Bakkar meminta kepada khalifah agar Marwan diserahka kepad mereka. Tetapi, Utsman menolak  permintaan trsebut Karen khawatir akan dibunuh. Situasi menjadi tegang dan tudak terkendali dan pengawalan terhadap khalifah menjadi tak berdaya karena banyaknya penduduk mesir yang melakuan protes. Akhirnya Utsma ibn Affan wafat trebunuh pada tanggal 18 zulhijah 35 H. dalam usia 83 tahun dan pembunuhnya tidak diketahui secara pasti.
Selain hal-hal diatas yang menjadi pemicu kehancuran khalifah Utsman ibn Affan banyak alasan yang menjadi penyebab lahirnya pertikaian di antara kaum Muslimin, yang memuncak dengan timbulnya pemberontakan terbuka terhadap kekuasaan Khalifah. Tapi faktornya yang utama di balik persengkongkolan ini ialah kebencian kepada kekuatan Muslimin, yang mendorong Ibn Saba dan para pengikutnya ingin membakarnya dari dalam. Prinsip-prinsip demokrasi yang diterapkan dalam Islam serta kesederhanaan dan kesalehan Utsman yang tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah di antara sesama Muslimin, memberi keleluasaan kepada komplotan jahat memfitnah dan merusak rezimnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar