Senin, 23 Januari 2012

makalah tafsir (klasisikasi tafsir- (tafsir bil matsur))


Tugas ilmu tafsir
KLASIFIKASI TAFSIR
(Tafsir bil ma’tsur)
 





OLEH
DAMIN HAMDANI
JAMRUDDIN
ASWIN
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2010
Bab 1
Pembahasan
A.  Pengertian Tafsir bil Ma’tsur
Sebagaimana dijelasskan Al-Farmawi, tafsir bil al-ma’tsur (disebut pula bi ar-riwayah dan an-naql) adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri, penjelasan nabi, penjelasan para sahabat melalui ijthadnya , dan pendapat (aqwal) tabiin.[1]Penafsiran dari Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat tertentu juga berfungsi menafsirkan ayat yang lain. Ada yang langsung ditunjukan oleh Nabi bahwa ayat-ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat lain; ini masuk kelompok tafsir bil ma’tsur (tafsir melalui  riwayat).[2]
Menurut Kahar Mansyur tafsir bil ma’tsur ini berdasarkan sahih manquulnya Al-Quran dengan Al-Quran atau sunah atau dengan perkataan sahabat Rasul SAW atau tabiin.Tafsir ini mempertahankan atas atau peninggalan sahabat yang bertalian dengan pengertian ayatnya. Dia kaitkan dan tidak berijtihad dalam menerangkan pengertian asalnya dan bertahan pada hal yang tidak berguna.[3]Pada devirasi yang lain Said Agil Husin Al Munawar dalam bukunya yang berjudul Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki menjelaskan bahwa:
“ penafsiran atau penjelasan ayat Al-Quran terhadap maksud ayat al-quran yang lain. Termasuk dalam tafsir bil matsur adalah penafsiran al-quran dengan hadis-hadis  yang diriwayatkan dari Rasullulah SAW. Penafsiran al-quran dengan pendapat para  sahabat berdasarkan ijtihad mereka , dan penafsiran al-quran dengan pendapat tabiin.[4]

B. Metode Tafsir bil Ma’tsur
Nabi Muhammad SAW bukan hanya bertugas menyampaikan Al-Quran melainkan sekaligus menjelaskannya kepada umat.Para sahabat menerima dan meriwayatkan tafsir nabi SAW secara musyafahat (dari mulut ke mulut), demikian pula generasi berikutnya sampai datang masa tadwin (pembukuan) sekitar abad ke-3H.Metode penafsiran (cara penafsiran) itulah yang merupakan cikal bakal tafsir bil matsur atau disebut juga tafsir bil al riwayyat.[5]
Bila merujuk dari definisi yang ada, maka adda empat otoritas yang menjadi sumber penafsiran bil matsur;
1)   Al-Quran yang dipandang sebagai penafsir terbaik terhadap Al-Quran sendiri.Umpamanya penafsiran kata mutaqqin, pada surat Ali Imran ayat133;
* (#þqããÍ$yur 4n<Î) ;otÏÿøótB `ÏiB öNà6În/§ >p¨Yy_ur $ygàÊótã ßNºuq»yJ¡¡9$# ÞÚöF{$#ur ôN£Ïãé& tûüÉ)­GßJù=Ï9 ÇÊÌÌÈ
Artinya: ” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”
Adalah dengan menggunakan ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan seterusnya.
2). Otoritas hadis nabi yang memang berfungsi diantaranya sebagai penjelas Al-Quran.
3).Otoritas penjelasan sahabat yang dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui Al-Quran. Umpamanya penafsiran Ibnu Abbas terhadap kandunagan surat An-Nasr (110) dengan kedekatan waktu kewafatan Nabi.
4).Otoritas penjelsan tabiin yang diangap sebagai orang yang bertemu langsung dengan sahabat.[6]
Yang menjadi persoalan pokok dalam kajian Al-matsur ialah,1) apakah yang dimaksud dengan Al matsur tersebut, penafsiran yang telah diberikan Nabi dan para sahabatnya.2)Penafsiran Al-Quran berdasarkan bahan-bahan yang diwarisi dari Nabi berupa Al-Quran dan sunnah, serta para sahabat, serta pendapat para sahabat, yang menurut Al Hakim, sama dengan hadis marfu[7]
Namunperlu diingat bahwa penafsiran Nabi itu terdiri atas dua kategori:
1). Sudah terinci. Ini biasanya menyangkut masalah ibadah seperti kewajiban shalat, zakkat, puasa, haji,dan sebagainya. Semua itu sudah teriinci dan tidak dapat dikembangkan lagi. Artinya apa yang telah digariskan oleh Nabi SAWberkenaan dangan masalah-masalah ibadah tidak perlu ditafsirkan lagi tapi cukup dilaksanakan sesuai dengan ketentuan tersebut,tak boleh diubah sedikitpun.
2). Dalam garis besarnya, atau boleh disebut pedoman dasar yang dapat dikembangakan oleh generasi selanjutnya,ini biasanya berhubungan dengan masalah masalah muamalah,seperti hokum, urusan kenegaraan,kekeluargaan,dan sebagainya. Dalam lapangan inilah diperlukan ijtihad supaya pedoman-pedoman yang telah diwariskan oleh Nabi SAW dapat diaktualisasikan dan diterapkan di tengah masyarakat sesuai tuntutan zaman.[8]
C. Pendapat Para Ulama Tentang Tafsir Bil Matsur
Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tafsir bil matsur. Al-Zarkani misalnya membatasi pada tafsir yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Quran, sunah dan para sahabat. Dalam batasan itu, jelas terlihat, tafsir yang diberikan oleh tabiin tidak masuk kelompok tafsir al matsur, sementara ulama lain, seperti al-Dzahabi memasukan tafsir tabiin ke dalam al-matsur karena menurut pendapatnya meskipun tabiin tidak menerima tafsir langsung dari NabiSAW, namun kitab-kitab tafsir bil matsur,demikian al-Dzahabi memuat tafsir mereka.[9]
Keengganan Al-zarkani memasukan penafsiran tabiin kedalam al matsur dilator belakangi oleh kenyataan banyaknya diantara tabiin itu terlalu terpengaruh riwayat-riwayat israiliyat.[10] Tidak diperoleh alasan yang memadai mengenai penafsiran tabiin yang dijadikan sebagai salah satu sumber tafsir bil matsur. Padahal dalam penafsiran Al-Quran mereka tidak hanya mendasarkan kepada riwayat yang diterima dari sahabat, tetapi juga terkadang memasukkan ide-idenya. Dengan kata lain terkadang merekapun melakukan ijtihad dan memberi interpretasi terhadap Al-Quran. Disamping itu, mereka berbeda dengan sahabat,tidak mendengar langssung dari nabi dan tidak menyaksikan langsung situasi dan kondisi Al-Quran turun.[11]
Oleh sebab itu otoritas mereka sebagai sumber penafsiran Al-Quran bil matsur masih diperdebatkan para ulama. Diantara ulama yang menolak otoritas mereka adalah Ibnu Syaibah dan ibnu Aqil. Berkenaan dengan otoritas mereka,Abu Hanifah berujar, “Apa yang dating dari Rasullulah harus diterima, apa yang datang dari tabiin kita perlu menyikapinya, mereka adalah anak laki-laki dan kami laki-laki.[12]
Namun mayoritas ulama seperti Ad-Dahhak bin Al-Mujahim,Abu Al­-AliyyahAr-Rayyah,Hasan Absri dan Ikrimah menerima otoritas mereka karena umumnya mereka mendengar langsung dari sahabat.
Bila Ibnu Aqil dan syaibah mempersoalkan otoritas tabiin, Quraish Shihab mencoba lebih dalam lagi mempersoalkan otoritas Nabi dan sahabat. Menurutnya,penafsiran Nabi dan sahabat dapat dibagi kedalam dua kkategori:
1). La maja li al-aql fihi (masalah yangdiungkapkann bukan dalam wilayah nalar)seperti masalah metafisika dan perincian ibadah.
2). Fi majal al-aql (dalam wilayah nalar) seperti masalah kemasyarakatan.
Yang pertama, apabila nilai riwayatnya sahih, diterima sebagaimana apa adanya tanpa adanya pengembangan karena sifatnya diluar jangkauan akal. Adapun yang kedua,walaupun harus diakui bahwa penafsiran Nabi pasti benar, penafsirannya itu harus didudukan pada proporsinya yang tepat.[13]Adapun pendapat sahabat, apabila persoalan yang diungkapkan itu fi majl al-aql,pendapat tersebut fi hukm al-marfu dan diterima apa adanya. Bila tidak demikian, mereka hanya dipertimbangkan dan dipiih mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.[14].
Bertolak dari pendapat Shihab diatas ,jelaslah bahwa tidak merupakan suatu keharusan untuk menerima produk penafsiran bil al matssut bila persoalannya menyangkut fi majl al aql meskipun penafsiran itu berasal dari Nabi.
D. Pertumbuhan Tafsir Bil Matsur dan kitab Yang Tterkenal
Dalam pertumbuhannya tafsir bil matsur menempuh tiga periode:
Periode pertama yaitu,masa Nabi,  sahabat dan permulaan masa tabiin ketika tafsir belum ditulis. Pada periode ini periwayatan tafsir secara umum dilakukan dengan lisan (musyafahah).
Periode kedua, dimulai dengan masa pengkodifikasian hadis secara resmi pada masa pemerintahan umar bin abdul aziz (95-101). Tafsir bil matsur ketika itu ditulis bergabung dengan penulisan hadis dan dihimpun dalam salah satu bab  hadis.
Periode ketiga, dimulai dengan penyusunan kitab tafsir bil matsur yang berdiri sendiri.
Diantara kitab yang dipandang menempuh corak bil matsur adalah;
1.    Jami al Bayan fi tafsir,Al-Quran ,karya ibn Jaris ath-thabari(w.310/923).
2.   Anwar at-Tanzil karya Al-Baidhawi (w.685/1286).
3.    Ad-dhur AL-Mantsur fi Al-Tafsir bi AL-Matsur karya Jalal ad-Din As-Suyuti (w911/1505).
4.    Tanwir Al Miqbas fi Tafsir ibn abbas karaya Fairud zabadi (w.817/1414).
5.    Tafsiir Al-Quran Al-Azhim karya ibnu katsir (w.744/1373).
Pengategorian kitab tafsir diatas sebagai tafsir bil al-mattsur dengan pertimbangan bahwa sebagian besar isinya mengandung riwayat. Ini mengingat sulitnya mencari sebuah kitab tafsir yang murni menggunakan corak bil Al-matsur. Pada prakteknya, kitab-kitab tafsir juga menggunakan corak bil ar-rayi meskipun tidak begitu dominan.[15]
E. Keistimewaan Dan Kelemahan-Kelemahan Tafsir bil Matsur
Mengingat corak tafsir yang merujuk diantaranya kepada Al-Quran dan AL-Hadis maka dapat dipastikan tafsir bil matsur memiliki keistimewaan tertentu dibandingkan corak penafsiran lainnya. Diantara keistimewaan itu , sebagaimana dicatat Quraish Shihab,adalah sebagai berikut:
1)   Menekankan pentingnya bahasa dalam  memahami Al-Quran.
2)   Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.
3)   Mengikat muffasir dalam bingakai ayat-ayat sehingga membatasinya agar tidak terjerumus kedalam subjektivitas yang berlebihan[16].
Adz-Dzahabi mencatat kelemahan-kelemahan tafsir bil matsur,yaitu sebagai berikut;
1)   Terjadi pemalsuan dalam tafsir (wadh’). Dicatat oleh Adz-Dzahabi bahwa pamalsuan itu terjadi pada tahun-tahun ketika terjadi peperangan dikalangan umat islam yang menimbulkan berbagai aliran seperti syiah, hawarij dan murjiah. Diantara sebab pemalsuan, menurutnya adalah fanatisme mahzab, poitik, dan usaha-usaha umat islam.
2)   Masuknya unsur israilliyyat yang didefinisikan sebagai unsur-unsur yahudi dan nasrani kedalam penafsiran Al-Quran. Persoalan israiliyyat sebenarnya sudah muncul sejak zaman nabi. Hal itu berdasarkandua hadis nabi yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal tentang dialog Umar bin Khatab dan nabi mengenai tulisan yang berasal dari ahli kitab, dan Bukhari yang berisi seruan nabi untuk tidak membenarkan da tidak pula menyalahkan dan mendustakan berita yang dating dari ahli kitab. Israiliyyat menjadi persoalan serius ketika berada pada masa tabiin. Pada masa itu, israilliyyat tidak hanya telah membaurkan antara sahih dan yang batil tetapi juga banyak yang dapat merusak akidah umat[17].
3)   Penghilangan sanad. Eksistensi sanad yang menjadi salah satu kualifikasi kaakuratan sebuah riwayat ternyata tidak ditemukan pada sebagian tafsir bil matsur. Akibatnya penilaian terhadap riwayat itu sulit dilakukan sehingga sulit pula untuk membedakan mana yang sahih dan mana yang tidak.
4)   Terjerumusnya sang mufassir kedalam uraian kebahasaan dan kesastraan yang bertele-tele sehngga  psan pokok Al-Quran menjadi kabur.
5)   Seringkali konteks turunnya ayat (asbab an nuzul)atau sisi kronoogis turunnya ayat-ayat hokum yang dipahami dari uraian nasikh-mansukhhampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun ditengah-tengah masyarakat yang hampa budaya.[18]
Dengan mempertimbangakan keistimewaandan kelemahan dalam tafsir bil matsur maka dapatlah dikatakan bahwa corak itu dipandang lebih baik daripada corak lainnya jika kelemahan-keleemahannya dapat dihindari.












Bab II
Kesimpulan
Tafsir bil al-ma’tsur (disebut pula bi ar-riwayah dan an-naql) adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri, penjelasan nabi, penjelasan para sahabat melalui ijthadnya , dan pendapat (aqwal) tabiin.
Nabi Muhammad SAW bukan hanya bertugas menyampaikan Al-Quran melainkan sekaligus menjelaskannya kepada umat.Para sahabat menerima dan meriwayatkan tafsir nabi SAW secara musyafahat (dari mulut ke mulut), demikian pula generasi berikutnya sampai dating masa tadwin (pembukuan) sekitar abad ke-3H.Metode penafsiran (cara penafsiran) itulah yang merupakan cikal bakal tafsir bil matsur atau disebut juga tafsir bil al riwayyat.
Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tafsir bil matsur. Sebagian besar besar para ulama menerima tafsir bil matsur dari tabiin namun sebagian besar ulama lain menolak dengan alas an yang bermacam-macam.
Kitab tafsir bil matsur yan trkenl antara lain; Jami al Bayan fi tafsir Al-Quran,karya ibn Jaris ath-thabari,, Anwar at-Tanzil karya Al-Baidhawi, Ad-dhur AL-Mantsur fi Al-Tafsir bi AL-Matsur karya Jalal ad-Din As-Suyuti, Tanwir Al Miqbas fi Tafsir ibn abbas karaya Fairud zabadi, dan Tafsiir Al-Quran Al-Azhim karya ibnu katsir.
Mengingat corak tafsir yang merujuk diantaranya kepada Al-Quran dan AL-Hadis maka dapat dipastikan tafsir bil matsur memiliki keistimewaan tertentu dibandingkan corak penafsiran lainnya Dengan mempertimbangakan keistimewaandan kelemahan dalam tafsir bil matsur maka dapatlah dikatakan bahwa corak itu dipandang lebih baik daripada corak lainnya jika kelemahan-keleemahannya dapat dihindari.



























Daftar Pustaka

Adz- Dzahabi, Muhammad Husein, At-Tafsir Wa Al-Mufassirun Juz I, Mesir; Dar Al- Maktub Al- Haditsah, 1976
AL Munawwar, Said Agil Husin. Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki,Jakarta:ciputat press,2002
Al-Qhatan, Manna, Mahabits Fi Ulumu Quran; Man Syurat Al-Ashr Al-Hadist
Anwar, Rosihan, Ilmu Tafsir, Bandung; Pustaka Setia, 1995
Ash-Shiddieqy, T.M.. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran, Bandung; Bulan Bintang, 1994
........................................., Sejarah dan Pengantar Ilmu Al- Quran dan Tafsir, Semarang; Pustaka Rizki Putra, 2000
Baidan, Nasruddin, Metode Penafsiran Al-Quran; Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002
Departemen  Agama RI, Al-quran dan Terjemahannya  Al Jumanatul Ali, Bandung; Penerbit J-ART,2004
Mansyur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Quran, Jakarta; Rineka Cipta, 1992
Quthan ,Mana’ul, Pembahasan Ilmu Al-Quran 2, Jakarta; Rineka Cipta 1995
Shihab, Quraish,membumikan Alquran,Bandung;Mizan,1992





[1] Manna Al-Qathan, mahabits fi ulum Al-Quran,Mansyurat Al-Ashr Al_hadits,1973,hlm.324
[2] Nas:hruddin Baidan,Metode penafsiran Al-Quran,(Yogyakata,Pustaka pelajar,2002),hlm.41
[3] Kahar Mansur, Pokok-pokok Ulumul Quran, (Jakarta, Rineka Cipta:1992), hlm173
[4] Said Agil Husin AL Munawwar. Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki,(Jakarta, ciputat press;2002), hlm.71
[5] Baidan,Metode …….,hlm41
[6] Rosihan Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung, Pustaka Setia: 1995  ), hlm.143-144
[7] Baidan,Metode …….,hlm.43
[8] Ibid,.hlm.45
[9] Ibid,.hlm.42
[10] Ibid
[11] Muhammad husein Al-Dzahabi, Al-tafsir wal  al Mufassirun juz 1,(Mesir;Dar Al-Maktub Al-Haditsah,1976),hlm.128
[12] Ibid,.hlm.121
[13] Quraish Shihab,membumikan Alqurqn,(Bandung;Mizan,1992),hlm.158
[14] ibid
[15] Anwar, Ilmuhlm.146-147.
[16] Ahmad Muhammad Al-Hufi Ath-Thabari,Al-majlis Al-A’la Asy-syuun Al Islamiah,1970, hlm.108
[17] Al-Dzahabi, Al-tafsir,hlm.70
[18] Shihab,membumikan..hlm.84

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar