Senin, 23 Januari 2012

makalah tafsir muhkam wal mutasyabih

Tugas Ilmu Tafsir Individu

MUHKAM WAL MUTASYABIH
 









OLEH:
DAMIN HAMDANI
NPM:08 02 01 01 025

JURUSAN SYARI’AH/AS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2010

BAB I
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat
1.    Pengertian Muhkam
Kata muhkam berasal dari kata ihkam yang secara literal berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan. Meski demikian cakupan makna dari kata tersebut kembali pada substansi pencegahan. “ahkam al-amar” berarti menyempurnakan sesuatu hal dan mencegahnya dari kerusakan.[1] Menurut Manual Quthan bahwa muhkam secara bahasa terambil dari kata “hakamutud daabah wa ahkamat” artinya melarang. Hokum yaitu pemisah antara dua hal. Ahkamul kalam artinya menguatkan pembicaraan itu dengan membedakan yang benar dari yang bohong.[2] Pada derivasi yang lain disebutan bahwa al-muhkam menurut bahasa ialah berarti almana’u atau melarang.[3]
Secara istilah terdapat khilafiah sesama ahli ushul mengenai arti muhkam, yaitu:
a.    Yang dinamakan al-muhkam ialah yang diketahui apa yang dimaksud dengannya. Adakalnya secara zahir atau nyata dan adakalanya dengan takwil atau pengalihan artinya
b.    Yang dinamakn al-muhkam ialah apa yang tidak mungkin ditakwilkan,tapi ia hanya satu arah saja.
c.    Yang dinamakan almuhkam adalah yang jjelas atau terang yang dimaksud dengannya,sehingga ia tidak mungkin dihapuskan.
d.   Yang dinamakan almuhkam ialah apa yang berdiri sendirinya an tidak membutuhkan penjelasan.
e.    Yang dinamakan almuhkam ialah sesuatu yang kokoh dan bundar sehingga tidak ada seginya.[4]
2.    Pengertian mutasyabihat
Mutasyabih, menurut bahasa terambil dari tasyabuh, yaitu yang satu diserupakan dengan yang satu lagi. Tasyabuh kalam yaitu serupa dan bersesuaian, sebab itu antara satu sama lain dapat membenarkan.[5] Kata mutasyabiaht bermuara pada kata “tasyabuh”  yang pengertian literletnya berarti penyerupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal.[6]
Al-mutasyabih menurut Kahar Mansyur bahwa secara bahasa ialah berasal dari ”attasyabahu yusbihu ahadus syaiin” yang artinya “salah satu dari dua menyerupai yang lainnya”. Ia mengandung pengertian al musyarakatu Atau kebersamaan, karena ada keserupaan dan bentuknya yang mengakibatkan keraguan. As syubhu yaitu dengan mendamahkan syinnya maka ia berarti iltibaas atau mengandung keraguan.[7]
Secara istilah lebih lanjut Mansyur menerangkan bahwa Almutasyabih secara istilah ialah
a.    Apa yang bertalian dengan pengaruh ilmu Allah, seperti  assaa’ah atau kehancuran total.
b.    Apa yang tidak dapat berdiri sendirinya dan membutuhkan keterangan yang lainnya.
c.    Apa yang memungkinkan pengertian yang tidak satu saja.
d.   Apa yang tidak terang apa yang dimaksudkan dan membutuhkan nasakh atau penghapusan.[8]
Dasar pembagian muhkam dan mutasyabih, antara lain dapat diperhatikan pada firman Allah dalm Surat Hud atyat 1 da surat Azzumar ayat 23
!9# 4 ë=»tGÏ. ôMyJÅ3ômé& ¼çmçG»tƒ#uä §NèO ôMn=Å_Áèù `ÏB ÷bà$©! AOŠÅ3ym AŽÎ7yz ÇÊÈ
Artinya:.  Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci[707], yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,(Q.S Huud :1)
ª!$# tA¨tR z`|¡ômr& Ï]ƒÏptø:$# $Y6»tGÏ. $YgÎ6»t±tFB uÎT$sW¨B Ïèt±ø)s? çm÷ZÏB ߊqè=ã_ tûïÏ%©!$# šcöqt±øƒs öNåk®5u §NèO ßû,Î#s? öNèdߊqè=ã_ öNßgç/qè=è%ur 4n<Î) ̍ø.ÏŒ «!$# 4 y7Ï9ºsŒ yèd «!$# Ïöku ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o 4 `tBur È@Î=ôÒムª!$# $yJsù ¼çms9 ô`ÏB >Š$yd ÇËÌÈ
Artinya:”Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.(Q.S.Az –Zumar:
3.    Perbedaan muhkam dan mutasyabih
Secara istilah pengertian muhkam dan mutasyabih terdapat banyak perbedaan pendapat dalam merumuskan definisi muhkam dan mutasyabih. Al-Zarkani mengemukakan beberapa definisi antara lain:
a.    Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya atau mudah diketahui meksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungikinan nsakh, sedang mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi (maknanya) tidak diketahui maknanya baik secara aqli maupun naqli dan hanya Allah yang mengetahui maksudnya seperti datangnya hari kiamat dan huruf-huruf muqataah.
b.    Muhkam ialah ayat yang diketahui maksudnya baik secara nyata maupun takwil, mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah maksudnya seperti datangnya hari kiamat,keluarnya dajjal dan lain-lain.
c.    Muhkam ialah ayat yang hanya mengandung satu wajah takwil, mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak atau kemungkinan makna takwil.
d.   Muhkam adalah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan lain,mutasyabih adalah ayat yang tidak berdiri sendiri tetapi memrlukan keterangan.
e.    Muhkam ialah ayat yang seksama susunan dan urutannyayang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa pertentangan, mutasyabih ialah ayat yang makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada berrsamanya indikasi atau melalui konteksnya.
f.     Muhkam adalah ayat yang jelas maknanya dan tidak termasuk kepada isykal (kepedulian) sedang mutasyabih adalah lawannya (pelik atau samar-samar).
g.    Muhkam ialah ayat yang maknanya kuat yaitu lafadz nash dan lafaz zahir, mutasyabih ialah ayat yang maknanya tidak kuat yaitu lafaz mujmal, muawwal dan musykil.
h.    Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterngan yang lain, sedangkan mutasyabih tidak dapat diketahui maksudnya secara langsung, memerlukan keterangan lain atau penjelasan yang merujuk kepada ayat-ayat lain.[9]
Zainal Abidin dalm bukunya yang berjudul Seluk Beluk Al-Quran menjelaskan tentang definisi muhkam dan mutasyabih yang terjadi perbedaan pendapat:
a)    Muhkam ialah ayt yang maksudnya dapt diketahui baik secara nyata ataupun melalui ta’wil, sedang mutasyabihat ialah ayat yang hanya diketahui oleh Allah seperti masalah kiamat , dajjal dan lain-lain.
b)   Muhkam ialah ayta yang jelas maknanya dan mutasyabih ialah ayat yang tidak dijelaskan maknanya.
c)    Muhkam ialah ayat yang hanya mengandung satu pena’wilan dan mutasyabih ialah ayat yang mengandung beberapa kemungkinan penawilan.
d)   Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan mutasyabih adalah ayat yang tideak sempurna pemahamannya kecuali dengan merujuk kepada ayat lainnya.[10]
B.  Pembagian Ayat-Ayat Mutasyabih
Ayat-ayat mutasyabih secara umum dapat dibagi menjadi tiga macam:
1)   Ayat-ayat yang secara eksplisit oleh seluruh manusia sulit untuk memahami makna dan maksudnya, misalnya tentang zat Allah serta pengetahuan mengenai sifat yang dimiliki Allah, demikian pula tentang kaan datang atau tibanya hari kiamat serta hal-hal gaib. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Alah dalam Al-quran Q.S. Al-An’am:59.
2)   Jenis kedua dari ayat-ayat mutasyabih adalah kumpulan ayat yang hanya dapat diketahui melalui riset dan pengkajian yang mendalam. Ayat jenis ini seperti ayat yang kesamarannya disebabkan karena informasi yang disampaikan amat ringkas. Misalnya Q.S. An-Nisa : 3
3)   Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya hanya data dipahami dan diketahui oleh ulama-ulama tertentu dan tidak oleh semua ulama. Maksudnya adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang yang jernih jiwanya dan mujtahid.[11]
C.  Pandangan Ulama Tentang Ayat-Ayat Mutasyabihat
Subhi Salih membedkan pandangan ulama tentang ayat-ayat mutasyabihat menjadi dua kategori, yaitu pandangan ulama salaf dan pandangan ulama khalaf.
Umumnya ulama salaf meyakini dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah SWT.mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan meyakininya sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran seta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Misalnya ketika Imam Malik r.a. ditanya oleh seseorang tentang istiwa, beliau menjawab. Istawa itu maklum, bagaimana caranya tidak diketahui, oleh karenanya mempertanyakan hal tersebut adalah bid’ah, saya duga engkau ini orang jahat, keluar kamu dari majelis ini.
Dalam menjalankan pendekatan mereka mengajukan dua dalil , yeitu alasan atau argument-argumen aqliyah dan argument naqliyah. Dalil Aqli digunakan unntuk menentukan arti ayat-ayat mutasyabihat hanya berdasarkan aturan-aturan kebahasaan dan penggunaanya dikalangan bangsa arab. Pendekatan semacam ini hanya mengahasilkan ketentuan yang bersifat dugaan atau asumsi (dzanni) yang sifatnya tidak pasti.
Adapun argument naqli yang mereka gunakan sebagai sandaran pembenaran dari pendekatan yang mereka gunakan adalah bersumber dari hadis.
Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW, membaca ayat:’’Ialah yang menurunkan kitab (Quran) kepadamu “-sampai kepda orang yang berakal”;berkata ia: Rasulullah SAW. Bersabda: jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat daripadanya maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan Allah: maka hati-hatilah kepada mereka (HR. Bukhari-Muslim).
Pandangan ulama khalaf dalam menyikapi kenyataan ayat-ayat mutasyabihat yang terdapat didalam Al-Quran, maka ulama khalaf menempuh jalan takwil atau menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang sesuai dengan zat Allah. Karena itu mereka disebut dengan muawillah atau mazhab takwil.
Jikka ulama salaf memakai argument aqli dan naqli untuk meligitimasi pendekatan yang mereka gunakan, maka hal yang sama juga digunakan oleh ulama khalaf. Mereka menyebutkan suatu hal yang mesti dilakukan adalah upaya memalingkan lafal atau teks yang berada dalam kehampaan yang membuat bingung manusia dalam memahami suatu makna teks yang terdapat dalam ayat Al-quran. Oleh karena itu sepanjang memungkinkan melakukan penakwilan terhadap suatu ayat dengan makna yang benar, maka logika dan rasio yang benar menisccayakan hal tersebut. Lebih lanjut mazhab ini mempertanyakan apakah mungkin terdapat ayat dalam Quran yang tidak diketahui maknanya.Pandangan ulama khalaf sejalan dengan pandangan ulama syiah.[12]
D.  Hikmah Diturunkannya Ayat-Ayat Mutasyabih
Para ulama menyebutkan beberapa hikmah adanya ayat-ayat mutasyabih diantaranya.
1.    Mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya sehingga dengan demikian menambah pahalanya.
2.    Seandainya seluruhnya Al-Quran seluruhnya muhkam niscaya hanya ada satu mazhab, sebab kejelasannya itu akan membatalkan semua mazhab selainnya, selanjutnya hal ini akan mengakiabatkan para penganut mazhab tidak mau menerima dan memanfaatkannya. Tetapi jika mengandung muhkam dan mutasyabih maka masing-masing dari para penganut mazhab akan mendapatkan dalil yang menguatkan pendapatnya. Dengan demiian maka semua penganut mazhab memperhatikan dan memikirkannya. Jika mereka terus menggalinya maka akhirnya ayat-ayat yang muhkam menjadi penafsir bagi ayat mutasyabih.
3.    Apabial Al-quran mengandung ayat-ayat mutasyabih maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dan lainnya, selanjutnya hal ini memerlukan kepada berbagai ilmu seperti ilmu bahasa,gramatikal, ma’any,bayan, ushul fiqh dan lain sebagainya. Seandainya tidak demikian maka tidak akan muncul ilmu-ilmu tersebut.
4.    Al-Quran berisi dakwah kepada orang-orang tertentu dan umum.orang-orang awam biasanya tidak menyukai hal-hal yang bersifat abstrak. Karena itu jika mereka mendengar tentang sesuatu yang “ada” tetapi tidak berwujud fisik dan berbentuk, maka ia akan menyangka bahwa hal itu tidak benar, kemudia ia terjerumus kepada ta’thil (peniadaan sifat-sifat Allah). Oleh sebab itu sebaiknya mereka diajak bicara dengan bahasa yang menunjukan kepada apa yang sesuai dengan imajinasi dan khayalnya dan dipadukan dengan kebenaran yang bersifat empiric.[13]
















BAB II
KESIMPULAN
Dari uraian singkat diatas maka dapat kita simpulkan bahwa muhkam berasal dari kata ihkam yang secara literal berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan. Secara singkatnya bahwa muhkam adalah ayat-ayat Al-Quran yang telah jelas maksud dan kandungannya. Sedangkan mutasyabih menurut bahasa terambil dari tasyabuh, yaitu yang satu diserupakan dengan yang satu lagi. Tasyabuh kalam yaitu serupa dan bersesuaian, sebab itu antara satu sama lain dapat membenarkan. Yang secara singkatnya untuk mudah dipahami bahwa ayat mutasyabihat adalah ayat al-quran yang masih samar maksud dan artinya atau dalam definisi yang lain mengatakan bahwa ayat mutasyabih adalah ayat yang mengandung kemungkinan ditakwilkan dari beberapa segi.
Para ulama berbeda pandangan dalam menanggapi ayat-ayat mutasyabih. Pada dasarnya terbagi atas dua pendapat besar, yakni golongan salaf dan golongan khalaf. Umumnya ulama salaf meyakini dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah SWT.mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan meyakininya sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran seta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. ulama khalaf menempuh jalan takwil atau menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang sesuai dengan zat Allah. Karena itu mereka disebut dengan muawillah atau mazhab takwil. Mereka berargumen bahwa Al-Quran tidak mungkin diturunkan kalau tidak diketahui maknanya.



DAFTAR PUSTAKA
Abidin S, Zainal.,Seluk Beluk Al-Quran,Jakarta:Rineka Cipta,1992
Alifuddin, Muhammad,Sejarah dan Pengantar Ulum Al-Quran,Kendari:Yayasan Sipakarennu Nusantara,2009
Anwar, Rosihan, Ilmu Tafsir, Bandung; Pustaka Setia, 1995
Ash-Shiddieqy, T.M.. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran, Bandung; Bulan Bintang, 1994
Daming, Muhammad,Ulumul Quran, Kendari:Karya Kreatif,2006
Departemen  Agama RI, Al-quran dan Terjemahannya  Al Jumanatul Ali, Bandung; Penerbit J-ART,2004
Mansyur, Kahar,pokok-pokok ulumul Quran,Jakarta:rineka Cipta,1992
Quthan, Manual,Pembahasan Ilmu Al-Quran,Jakarta:Rineka Cipta,1995


[1] Muhammad Alifuddin,Sejarah dan Pengantar Ulum Al-Quran,(Kendari:Yayasan Sipakarennu Nusantara,2009),hlm.150
[2] Manual Quthan,Pembahasan Ilmu Al-Quran,(Jakarta:Rineka Cipta,1995),hlm.2
[3] Kahar mansyur,pokok-pokok ulumul Quran,(Jakarta:rineka Cipta,1992),hlm.19
[4] Ibid,.hlm.120
[5] Quthan,Pembahasan…,hlm.3
[6] Alifuddin,sejarah…,hlm.150
[7] Mansur,Pokok…,hlm.120-121
[8] Ibid…,hlm.120
[9] Muhammad Daming,Ulumul Quran, (Kendari:Karya Kreatif,2006),hlm.91-93
[10] Zainal Abidin S.,Seluk Beluk Al-Quran,(Jakarta:Rineka Cipta,1992),hlm.186
[11] Alifuddin,sejarah..,hlm.155-157
[12] Ibid.,hlm.158-162
[13] Abidin s.,seluk…,hlm.189

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar